Welcome!

Selamat datang di blog ini dan selamat menikmati sajian-sajian yang apa adanya ini....

Senin, 25 Juni 2012

Saat PKL di PT. PAMAPERSADA NUSANTARA


Sekarang saya ingin bercerita sedikit tentang saya sewaktu PKL di PT PAMA pada waktu semester IV dulu. Pengalaman PKL adalah pengalaman yang paling-paling-paling membolak-balikkan hati saya. Mulai dari menggigil sampai gemetaran saya alami setiap hari (makna antara menggigil dan gemetaran nggak sama lho...). Ceritanya bebini ehh maksud saya begini....



Sebenarnya jauh-jauh hari sebelum PKL saya sudah mempunyai teman-teman yang mau diajak PKL sekelompok dengan saya. Namun terjadilah hal yang complicated. (saya nggak bisa cerita saking complicated nya nggak tau harus mulai dari mana). Pokoknya akhirnya saya harus menelan banyak-banyak ludah saya sendiri karena.... Saya harus PKL s-e-n-d-i-r-i-a-n di luar sana, di dunia yang sangat kejam ini. saya yang makhluk tak berdaya ini harus sendirian. Bayangkan! (koq malah drama, sih~).

Akhirnya saya pun berangkat sendirian, packing sendirian, berlayar sendirian. Sesampainya di pelabuhan saya dijemput oleh seorang pria yang berpakaian sangat lecis. Sebenarnya umurnya sudah tua karena saya tahu beliau sudah punya 4 orang anak. Tapi beliau nampaknya sangat pintar mengurus diri hingga terlihat awet muda. Wajahnya sangat mirip dengan saya (atau mungkin wajah saya yang mirip dengan beliau). Yah, beliau adalah bapak saya. Tapi, dari kecil hingga berjanggut sekarang saya terbiasa memanggilnya dengan sebutan akrab, Papa. (pengalaman saya  yang paling aneh itu adalah ketika jalan2 sama papa. Tiba2 ada teman papa yang menghampiri papa dan bilang, "ini adiknya bapak ya pak" sambil menunjuk saya. Muka papa saya yang kelihatan muda, apa malah mukaku yang..... Ahh, lupakan~ mungkin muka orang itu yang rabun.) Dengan tujuan kota Tanjung Enim yang berjarak 5-6 jam dari kota Palembang. akhirnya kami melaju dari pelabuhan.

Saya PKL selama 3 bulan disana. Kawan percayalah~ itu rasanya sama dengan 3 tahun kalau kalian jadi saya. (-_-")
Saya tinggal sekost dengan papa selama PKL. Soalnya Papa juga kerja di PT. PAMA sebagai proffesional senior di bidangnya. Tinggal di kost dengan papa benar-benar sepi. Nggak ada TV.... Yang bikin rame itu adalah segerombolan anak-anak yang giginya karies yang tinggal di sekitar kost.
Papa orangnya sangat kaku. Saya juga segan untuk menatap matanya. Awal-awal tinggal berdua saja dengan papa rasanya sangat tertekan batin jiwa dan raga. Yah, maklum saja karna saya lebih dekat dengan Mamak saya. Karena sejak saya kecil, papa selalu 3 bulan sekali pulang ke belitung. Jadi, sebagian besar waktu saya habiskan bersama Mamak. Jadi itu wajar.....

Pada saat di lokasi kerja PKL, saya juga mengalami masa adaptasi yang lama. Karena mesin-mesin disana berbeda jauh seperti di Polman. Mulai dari jenisnya sampai bentuknya. Lebih kompleks - lebih besar seperti monster. Dan pekerjaan yang saya lakukan juga sangat berat. mulai dari mencuci alat berat sampai memperbaikinya.
                                             (Bannya aja lebih tinggi dari saya, apalagi .....-_-")


Namun itu sangat sepadan dengan ilmu hydrolic system dan ilmu-ilmu lainya yang mereka berikan kepada saya. Selain bekerja setiap minggu juga selalu ada tugas yang harus dikumpulkan ataupun test yang harus dilakukan. Semua sangat sepadan.... rasa capek... rasa dongkol... dan rasa kepuasan... (Ya saya puas karena saya telah berhasil mencapai salah satu mimpi saya berkat ilmu hydrolic system yang mereka berikan kepada saya). Kalau ada kata yang lebih "mewakili semuanya" dari pada kata terima kasih pasti telah ku cucurkan sebanyak-banyaknya.

Di lain pihak.... Akhirnya saya bersyukur teman. saya sadar....
Saya bersyukur di kost papa nggak ad TV karena dengan itu saya bisa berbicara dengan sangat lama dengan papa, saya bisa jalan-jalan berdua di luar dengan papa, makan bareng dengan papa di warung padang, menyisip masa-masa lalu dengan papa, Dan yang paling-paling-paling saya senangi adalah saya bisa melihat senyum lepasnya pada saat saya berhasil berdiri bersampingan bersamanya (sebagai ayah dan anak) di halaman PT. PAMA karena saya dan papa dipanggil  kedepan pada saat upacara Safety Talk didepan jajaran seluruh teman-teman dan atasan-atasan papa, kemudian saya diberi amplop beasiswa perusahaan yang tahun lalu pernah saya ajukan ke PT. PAMA. Padahal saya berfikir Beasiswa itu nggak lulus karena udah hampir setengah tahun nggak ada kabarnya. tapi ternyata beasiswa itu diberikan tepat pada saat saya PKL.
Kawan...
Akhirnya semuanya terjawab pada saat yang tepat....
Separuh pertanyaan saya selama hidup terjawab....
Andai saya nggak jadi masuk Polman, malah lulus masuk akpol tiga tahun lalu. Saya pasti tidak akan pernah bisa berdiri berdua dengan papa dan membaca arti tatapan hangat matanya kepadaku, "Betapa bangganya aku menjadi ayahmu".